Pelajaran Mengenai Indonesia Dari Jalanan Jakarta

Processed with VSCO with c2 preset

Sebagai seseorang yang tinggal di Jakarta, sudah tersurat bahwa sebagian besar hidup saya akan dihabiskan di jalanannya yang macet. Agar waktu tersebut tidak terbuang dengan sia-sia, saya sering menggunakan waktu tersebut untuk mengamati. Mengamati jalanan tersebut baik dari penggunanya, bentuknya, pelaksananya, dan segala hal yang terjadi diatasnya.

Lucunya, semakin saya mengamati, semakin saya menyadari bahwa apa yang terjadi di jalanan kita ini dapat menggambarkan bagaimana negara kita dijalankan oleh pemerintah, dan bagaimana sifat dasar dari bangsanya sendiri. Kesimpulan ini saya rangkum menjadi lima buah hal dibawah ini:

1.Pemerintah hanya mempedulikan mereka yang punya uang.

trotoar

Hal ini paling jelas terlihat dari trotoar Jakarta, atau kurangnya trotoar tersebut. Banyak jalan yang sama sekali tidak mengindahkan nasib pejalan kaki. Yang paling besar peruntukannya: kendaraan bermotor. Kenapa? Karena itu berarti pajak ekstra bagi pemerintah, baik dari pajak kendaraan bermotor maupun pajak kontribusi dan nilai investasi dari para pabrikan kendaraan. Memang ada beberapa daerah seperti Kuningan atau SCBD yang memiliki trotoar bagus, tapi itu rata-rata karena ada campur tangan pemilik daerah atau gedung sekitar yang ingin daerah mereka terlihat manusiawi dan layak diposting di Instagram. Hal ini sebenarnya juga terlihat dari kualitas angkutan umum yang buruk dan prehistoris, yang memicu bertambahnya kepemilikan kendaraan bermotor, dan membuahkan kemacetan. Ya iya lah. Kalau punya uang kenapa harus menggunakan Metro Mini lalu kecopetan? (Jadi tidak selamanya kemacetan itu salah Foke)

2. Kita dipimpin oleh politisi, bukan negarawan.

politisi-ppp-gulingkan-meja-A3A

 

Banyak keputusan pemerintah yang diambil itu hanya jangka pendek. Contoh paling konkret – memecahkan kemacetan dengan pelebaran jalan, bukannya membangun akses dan transportasi publik. Kenapa hal ini dilakukan? Karena mereka tidak ingin masa jabatan mereka dikenang dengan membuat kota ini tambah kacau dan macet dengan pembangunan fasilitas umum yang lebih baik. Kalau masa jabatan mereka tidak dinodai dengan ini, kesempatan mereka dipilih kembali saat Pilkada berikutnya lebih besar. Pola pikir seorang politisi. Seorang negarawan tidak perduli dengan image atau popularitas mereka, karena mereka lebih mementingkan impact dari perbuatan mereka yang dilakukan untuk sesuatu yang lebih besar dari mereka, yaitu negara mereka. Orang seperti ini semakin jarang ditemui. Begitu ada, dicap kafir lah, atau dimusuhi ras nya lah. Nasib jadi orang yang peduli sama negaranya itu ya begini.

3. Selama kita terlihat santun dan beragama, kita bisa lolos melakukan apa saja. (Need i say more?)

fpi-konvoi
Yang penting religius. (Photo credit to ADEK BERRY/AFP/Getty Images)
4. Kebersamaan dan gotong royong kita tidak mengenal konteks.

news_2886_1374485396
Bersatu kita bisa! (melawan aturan)
Sifat dasar orang Indonesia itu adalah kolektif. Mangan ora mangan kumpul, katanya. Beda dengan orang bule yang mangan sendirian juga oke, seng penting mangan. “Ngga kompak”  adalah dosa yang menempati posisi tinggi di kebudayaan kita. Sayangnya, sering kali hal ini tidak memandang konteks. Melanggar peraturan? Ngga papa, kan ramai-ramai. Bakar maling? Ngga papa, kan kita semua udah sepakat dia harus dihajar atas kejahatannya. Korupsi? Ah, yang lain juga gitu kok. Untuk sebuah bangsa yang bangga akan kekuatan kebersamaannya, kita itu sebenarnya sangat egois.

5. Ketidak tahuan dan ketidak pedulian adalah akar dari segala masalah.

SIM nembak

Orang yang biasanya melanggar lalu lintas itu melakukannya karena mereka tidak tahu apa tujuan mematuhi peraturan, apa dampak bagi orang yang hak atau jalurnya ia ambil. Kalau di lalu lintas hal ini terjadi karena SIM bisa nembak, sehingga mereka tidak menyadari faktor “kenapa” mereka harus mematuhi aturan tersebut. 

Pada level yang lebih tinggi, hal ini bisa dihubungkan kepada hobi orang kita yang getol untuk korupsi. Seringkali karena ketidak tahuan mereka akan korupsi itu sendiri lah yang mengakibatkan mereka tidak perduli, dan membuat korupsi tersebut terjadi (selain dari “pelumrahan” – saking umumnya terjadi, sehingga dianggap biasa). Itu mengapa saya senang sekali dengan inovasi terbaru dari KPK, portal untuk pembelajaran segala bentuk korupsi, mulai dari jenisnya apa saja, lalu apa yang bisa dikategorikan sebagai korupsi, dan dikemas dalam bentuk yang menarik dan interaktif. Akan lebih baik apabila semakin banyak orang dapat mengetahui apa saja yang dapat dikategorikan sebagai korupsi dan mencegahnya, dengan mempelajari situs ini. (oh, dan situs ini mobile-friendly. Silakan dibuka dari smartphone Anda)

ACLC KPK

Masalah bangsa ini memang tidak sedikit. Wajar, karena menurut saya kita baru merdeka dalam arti sesungguhnya tahun 98 kemarin. Belum sampai 20 tahun. Masih banyak PR yang harus dilakukan untuk membenahinya. Hal paling sederhana yang bisa saya lakukan saat ini adalah dengan mulai berlalu lintas lebih tertib, karena dari situlah kelihatan bagaimana mentalitas saya sebenarnya. Apa hal kecil yang bisa kamu lakukan untuk membuat negara ini jadi lebih baik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s