GrabHitch – Nebeng Asik Dari Grab

“Banyak hal menakjubkan yang dapat dicapai apabila gengsi dilupakan.”

seseorang bijaksana yang saya lupa siapa namanya. 

Saya dapat mengkonfirmasi kebenaran kutipan di atas sebagai pengguna ojek online sehari-hari meskipun telah memiliki mobil pribadi. Dengan area rumah di Bintaro dan kantor di Blok M, macet adalah menu wajib setiap harinya, dan hal itu hanya dapat diatasi dengan dua hal; menunggu sampai macet lebih reda, punya Pintu Kemana Saja, atau yang paling masuk akal, menggunakan jenis transportasi yang bebas macet.

Saya memilih melupakan kenyamanan mobil dan menggunakan ojek online karena tiga hal; Pertama, ojek sampai lebih cepat dibandingkan menggunakan mobil. Kedua, ongkos yang lebih murah, dan ketiga, fleksibilitas tempat penjemputan atau penurunan, sesuatu yang belum dapat disamakan oleh kereta api (kecuali rumah & kantor kamu paaas banget sebelah stasiun, yang menjadikan kamu minoritas dalam statistik, dan sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, kamu tak layak berbicara).

Sampai saat ini, saya berpindah-pindah menggunakan jasa dua provider ojek online, antara GoJek & Grab, tergantung ketersediaan driver dan ongkos saat itu. Tapi, ada satu hal yang kayaknya berpotensi membuat saya pindah sepenuhnya ke Grab untuk urusan transportasi kantor-rumah, yaitu GrabHitch, inovasi terbaru dari Grab.

Screen Shot 2017-03-27 at 12.25.06

Apa itu GrabHitch? Sederhananya, GrabHitch dapat dikatakan sebagai “nebeng searah”. Sistem ini memungkinkan kita menemukan Teman Tebengan yang rutenya searah dengan kita, dan menyesuaikan dengan jam kita juga.

IMG_0955IMG_0960

Cara menggunakannya simple. Cukup pilih fungsi GrabHitch di aplikasi Grab, pilih lokasi penjemputan dan penurunan, waktu penjemputan (jam dan hari), lalu kamu bisa melihat berapa ongkosnya.

IMG_0956

Ini adalah salah satu kelebihan Grab Hitch menurut saya – efisiensi ongkos! Kalau biasanya rute Blok M – Bintaro memakan sekitar Rp 20 – 40 ribu tergantung kondisi jalanan, GrabHitch menurunkan tarif lumayan banget, jadi Rp 14 ribu per trip! Lumayan tuh, sebulan bisa ngirit Rp 180 ribu, yang bisa diinvestasikan untuk ngopi sama gebetan atau selingkuhan yang potensial.

IMG_0957

Nah yang harus diperhatikan nih, karena ini sistem nebeng dan nasib kita berada pada tangan orang yang memberikan tebengan, pasang profile pic yang membuat kamu terlihat terpercaya oleh Teman Tebengan kamu. Tips: Untuk lebih mudah pendapatkan pemberi tebengan, jangan menggunakan profile picture dengan ekspresi psikopat, masker barong, atau berornamen anggota FPI.

Yang kerennya lagi, kita juga bisa memilih gender Teman Tebengan, jadi selain memberikan kenyamanan lebih, bisa juga digunakan untuk mencari jodoh yang searah! (saya bisa mendengar jomblo-jomblo Bekasi bersorak sorai)

IMG_0958

Selesai memasukan segala pilihan kamu, submit, dan sekarang tinggal menunggu para teman tebengan GrabHitch yang searah dan sewaktu dengan kita. Simpel! Saya akan menggunakan jasa GrabHitch ini selama dua minggu ke depan untuk bisa melihat segi positif/negatifnya lebih dalam. Selamat mencoba!

Xiaomi Mi4i Review

IMG_0092

AADX, atau Ada Apa Dengan Xiaomi? Itu yang gue pikirkan setelah melihat beberapa teman penyuka gadget yang tidak berhenti membicarakan mengenai brand tersebut. Komunitas yang menjadi advokat brand tersebut juga kuat, dan sangat aktif sekali, apalagi setelah produknya yang bernama Mi4i diluncurkan di Jakarta. Produk dengan premis “Affordable Flagship”, yang menurut gue secara pesimis, ngga akan ada bedanya dengan handset Android lainnya.

Gue beberapa kali menggunakan handset Android, dan ujung-ujungnya selalu kembali ke iPhone karena satu hal, konsistensi performa. Pakai Nexus 4 dan 5, yang notabene selalu memberikan konsistensi paling baik dari sisi software, tapi mengecewakan dalam battery life dan kualitas kamera. Pakai LG G3 yang camera nya sangat bagus untuk ukuran handphone, tapi kecewa dengan konsistensi performa nya karena seringkali melambat, memanas, dan ujung-ujungnya baterai lumayan boros.

Iklan Samsung
Dengan memakai Samsung, kamu akan bahagia karena berlari-lari di taman dan memiliki hidup yang berwarna-warni cerah.

Samsung… Gimana ya? Menurut gue pembeli Samsung itu secara spesifik berasal dari kalangan ‘orang yang masih percaya iklan’. I’m not saying that it’s bad, but you can definitely get better stuff if you only ask your techy friends instead of believing in social media buzzers who seem to glorify them (twice each year during the Galaxy S & Note series periodic launch). Yah, pernah pakai Galaxy S3 dan A5 punya kantor. S3 belum dipakai setahun dan performa nya melambat walau sudah factory reset, dan A5 sebenarnya cukup oke sih, tapi terlalu mahal untuk spesifikasi mid-range nya. So, ya begitu. Gue belum pernah menemukan handset Android yang memuaskan, yang bisa membuat gue bisa meninggalkan iPhone di rumah, dan sehari-hari memakai handset itu aja.

Tertarik dengan omongan teman-teman bahwa Xiaomi Mi4i ini memuaskan, gue bertanya-tanya, dan setelah satu dan lain hal, akhirnya menggunakan handset tersebut selama beberapa minggu ini. Secara singkat, gue sekarang tahu kenapa teman-teman gue merekomendasikan handset ini, dan brand nya memiliki komunitas yang sangat kuat juga. Handset ini simply memuaskan. Ini alasannya:

Screenshot_2015-09-20-22-35-53
Boleh lah ini battery life nya.

1. Battery kuat
Dan ada alasannya kenapa begitu. Satu, secara spesifikasi, ukurannya besar. Lebih dari 3,000 mAH, tapi lucunya, LG G3 yang dulu gue pakai juga memiliki baterai dengan ukuran sekitar itu, dan jarang sekali menembus 12 jam standby dengan penggunaan sedang (Waze sekitar 30 – 40 menit, sekitar 100an push email, chat, social media, browsing, puzzle games, dan sekitar 2.5-3.5 jam layar aktif). Perbedaannya terletak di prioritas designer handphone nya. Xiaomi itu mendahulukan user experience dibandingkan spesifikasi, terlihat dari Layar LG G3 yang 5.5 inch Quad HD, atau sekitar 538 ppi (pixel per inch) sedangkan Mi4i “cuma” Full HD, dengan 441 ppi. Apakah terlihat bedanya? Ngga. Tapi memang spesifikasi LG lebih sexy buat dipampangkan di brosur, walau efeknya lebih memberatkan prosesor dan membuat baterai boros.

Ibaratnya kalau mobil, LG membuat mesin 6 silinder yang lebih besar, tapi menghasilkan akselerasi yang sama dengan mesin Xiaomi yang cuma 4 silinder. It’s pointless. Dengan si Mi4i, Sehari-hari, paling jelek itu gue mendapatkan sekitar 12 jam. Rata-rata sekitar 15 jam, seringkali lebih. Copot charger jam 5.30 pagi, dan baru masuk charger lagi sekitar jam 11 malam. Sangat cukup buat gue.

2. Performa
Performanya konsisten. Masalah gue dengan LG G3 dulu adalah ketidak konsistenan performa. Kadang mulus, tapi seringkali mendadak melambat, bahkan disaat gue cuma ingin scrolling Home screen atau buka app. Mungkin cuma sekitar 0,5-1 detik sih lag nya, tapi dikali beberapa puluh kali melakukannya setiap hari, berasa lah. OS nya Mi4i yang bernama MiUI ini secara mengejutkannya cukup responsif dan konsisten. Tidak seperti kebanyakan Android dengan skin ala produsen lain yang biasanya memberatkan kinerja, OS ini dirasa sangat optimal buat handphone ini. Bukan cuma asal membedakan tampilan dan fitur, tapi memang dirancang untuk melengkapi hardware yang mid-range. Emang sih, RAM yang ukurannya 2GB itu kadang berasa ngga cukup, karena biasanya cuma tersisa sekitar 800-400MB untuk user (sisanya dimakan oleh OS tersebut). Lalu, namanya juga Android ya, masih perlu di reboot paling tidak seminggu sekali untuk mempertahankan mulusnya performa. Dimaklumi lah ini.

 IMG_0093

3. Camera
Memang camera handset ini ngga bisa dibandingkan dengan iPhone 5S atau LG G3 yang pernah gue pakai. Noise nya cukup banyak dalam kondisi remang-remang, lalu tidak menangkap detail sebaik handset2 tersebut. Tapi begitu ingat bahwa handset ini harganya 2,8 juta Rupiah, kekurangan itu sangat dimaafkan. Bahkan, agak sulit mencari camera handphone sebaik ini dalam rentan harga tersebut. Camera nya responsive, cukup cepat dinyalakan dari standby sampai mengambil gambar, sangat mudah digunakan & memiliki fitur-fitur unik, misalnya cara menyetel exposure value yang intuitif seperti ini.
Screenshot_2015-09-26-16-19-25
Beberapa fungsi dasar camera Mi4i
Screenshot_2015-09-26-16-19-10
Beragam mode foto Mi4i
Screenshot_2015-09-24-12-21-51
Mode selfie dengan sensor umur built-in. Dengan kacamata, gue dibaca sebagai 50 tahun, tanpa kacamata, lebih muda 20 tahun.

Camera itu sangat penting buat gue, dan menjadi salah satu alasan kenapa gue urung menggunakan Nexus. Camera dengan kualitas gambar konsisten itu alasan gue kenapa sejauh ini selalu memilih menggunakan iPhone untuk mengambil gambar, dan tidak memakai handset Android lainnya. Dengan si Mi4i ini, gue semakin sering menggunakannya untuk mengambil gambar, terlebih karena kamera 13 Megapixel nya ini lebih cropping friendly dibandingkan 8 Megapixel nya iPhone 5S gue. Untuk sample foto Mi4i, silahkan scroll ke paling bawah.

Sharp & vibrant. Something that you don’t see in a phone at this price range.
4. Layar dan desain
Menurut gue, 4.7-5 inch adalah ukuran layar terbaik, dimana real-estate visual cukup, tapi tidak mengorbankan handling jika menggunakan satu tangan. It’s the sweet spot. Layar 5 inch nya Mi4i yang digabung dengan body yang tipis membuatnya gampang digunakan, bahkan dengan satu tangan. Selain itu, layarnya tajam dan warnanya sangat bagus.
Apabila Samsung memiliki hobi yang aneh untuk membuat saturasi warna terlalu kuat, Xiaomi ini lebih condong ke Apple untuk racikan warna layar. Netral, visual angle nya luas dan menggunakan teknologi IPS dibandingkan LED. Foto dan gambar terlihat natural dan ekstra tajam. Memang kekurangannya adalah ketika di tempat gelap, there’s only so much brightness you can decrease. Kalah dibandingkan layar AMOLED nya Samsung yang bisa extra redup dan tidak menyilaukan. If you’re a fan of reading in the dark before going to bed (or you’re Batman), you might be losing sleep because of this.
Tampilan dasar home screen MiUI. Tidak punya app drawer seperti Android pada umumnya. I like this better. Who access their app drawer anyway?
Walau tampilannya iOS banget, tapi widgets bisa dong. Best of both world.
Screenshot_2015-09-24-12-24-19
Multi tasking screen nya kelihatan familiar ya…
5. Detail OS
Walau terlihat Xiaomi ini ‘terinspirasi’ sekali dari Apple, banyak sentuhan-sentuhan kecil yang dilakukan Xiaomi yang membuatnya berasa lebih intuitif atau menyenangkan dibandingkan versi Android lainnya. Contoh paling kecil, aksi swiping untuk melihat notifikasi tidak usah dilakukan pada layar bagian paling atas, tapi bisa dari mana saja.
Lalu, mode satu tangan yang sangat intuitif dan gampang dilakukan, bahkan sampai cara switching dari camera belakang ke depan (tinggal swipe atas/bawah saat camera menyala) atau posisi angka timer di selfie-mode camera yang posisinya dekat dengan lensa, agar mata lebih fokus melihat kearah lensa tersebut. Banyak sekali detail-detail kecil yang membuat OS ini unik, intuitif dan menyenangkan digunakan, baik itu animasi nya, maupun designnya. Untuk segala fitur MiUI, dapat dilihat disini.
Processed with VSCOcam with hb1 preset
I don’t mind using this as my daily driver. In fact, i want it to be.
Kesimpulannya, gue jatuh hati dengan handset ini. Memang ini masih terlalu cepat untuk mengatakan apakah Mi4i ini akan bertahan lama atau memberikan performa yang konsisten dengan berjalannya waktu, but, i’m more than willing to find out. Handset ini menyenangkan untuk digunakan. Ia membuat gue nyaman untuk memindahkan nomor utama ke sini, dan (kadang) meninggalkan iPhone di rumah. Handset ini actually ngga membuat gue was-was dengan performa baterai nya, atau memberikan gambar yang lumayan bagus dengan cepat tiap kali gue nyalakan kameranya. In fact, this is what i’m looking for in a handset. Perasaan tenang bahwa handset ini akan bekerja tanpa drama. It just works.
IMG_0094
Those faux chrome & plasticky buttons
Tapi, seperti ungkapan ‘tiada gading yang tak retak’ (atau kalau disesuaikan dengan era masa kini, ‘tiada Kelapa Gading yang tak banjir’) kekurangan itu pasti ada. Pertama, ukuran memory internal yang cuma 16 GB. Emang sih ini bisa disiasati dengan selalu selektif memilih file apa yang akan kita simpan, but i’m echoing realistic women here that size, in fact, does matter. Kedua, feel dari power & volume button. As you can tell as how i’m nitpicking here, sebenarnya ini bukan sesuatu yang penting, tapi akan lebih baik apabila rasanya lebih ‘click’ dan less plasticky. Apalagi ya? Mungkin tekstur body nya. Memang dia menggunakan coating yang membuatnya anti kotor. Segala noda gampang sekali dihapus, tapi kadang membuatnya berasa licin. Oke, gue mulai kehabisan materi untuk dikomplain. Selain itu pun, segala keluhan diatas lagi-lagi dimaafkan mengingat harganya yang dibawah 3 juta.
Processed with VSCOcam with hb1 preset
It’s hard to find a better phone all around at 2.5-3 million price point. I highly recommend this phone for that kind of budget.
Ada masanya harga dibawah 3 juta itu merupakan pertanda sial bahwa handset yang bisa dibawa pulang adalah merek ngga jelas, atau Samsung low-end dengan spesifikasi yang hanya terdengar wow ketika band bernama Base Jam masih terkenal. Dengan senangnya gue memberi tahu bahwa masa-masa gelap itu telah berlalu (begitu pula dengan Base Jam). Budget terbatas sekarang bisa mendapatkan handset dengan kualitas sebaik Mi4i ini.
P.S: If your budget is lower than that, and i mean below 2 million Rupiah, you shouldn’t worry as well. Xiaomi baru aja meluncurkan Redmi 2 Prime yang harganya sekitar 1,8 jutaan, dan apabila optimalisasi OS dan hardware nya sebagus si Mi4i ini, harusnya performa nya akan sangat memuaskan untuk harganya. I will be reviewing it once i got my hands on it and spend a good time with it. (Big love to the guys at Xiaomi for allowing me to do some reviews on their gadgets)
Beberapa sample foto yang diambil dengan Mi4i:
Processed with VSCOcam with hb1 preset
Pagi hari cerah, indoor, sudah dibumbui dengan preset VSCOCAM.
IMG_20150925_175946
Maghrib, outdoor, sekitar jam setengah 7 malam.
IMG_20150912_190204
Indoor, malam, dengan cahaya lampu neon.
IMG_20150925_204051
Malam, indoor dan remang-remang ala bar.
IMG_20150912_185504
Kondisi malam. Mengkompensasi noise dengan kontras cahaya yang tinggi.
IMG_20150924_123613
Indoor, kondisi terang sekitar jam makan siang.

It’s Worth It

It's Worth It.

Throughout life, I’ve stumbled upon stuffs which it’s quality mirror their price tag. For instance, iPhone, MacBook Air or any other Apple products. The quality of the product is the same as the price you pay. It has great built, works flawlessly, long lasting and a joyful experience to have. You get exactly what you paid for.

In other times, there are objects that deemed to be overpriced when compared to the quality or experience that you get. For instance: Coffee Rub burgers, Toyota Fortuner and Indonesian tax.

This post is a share of objects (well, more like stuffs or gadgets) that surprises me with their quality beyond the price that I paid.

Starting from the number one: Klipsch S4 in-ear headphones.
I paid around Rp 900K for this piece, which seems to be a lot of money for what looks like an in-ear headphones with a nice metal case. But as it turns out, the sound quality it churns is amazing! The bass lines are there without overpowering as Beats’s and also produces nice mid & high range frequency.

Number two – Jawbone’s Jambox.
This 2 million Rupiah Bluetooth portable speaker is one of my arsenal to bring during presentations. Simply paired it with my MacBook and I have my presentation video sounding like what they meant to be. The sound quality is decent for its size, and the bass! Oh the bass… Also, the battery life is simply stellar. My minor complaint is regarding the Bluetooth connectivity with Macs. It frequently fails and made me turn off my Mac’s Bluetooth switch to get it connected again. I suspect the culprit is the Mac OS, since it work flawlessly with my Nexus 4 & iPhone/iPad.

Number 3 – Philips Aquatouch ATH-750 electric shaver.
I got this product for 500K, and it has been in my possession for around 2 years. It offers practical shaving for dry & wet condition flawlessly. The razor is great & shaves faster then any regular shaver, and to my surprise, it shaves off quite clean (well, for an electric shaver type. Don’t compared it to traditional razor blade for precision). The battery life is also excellent. The first months i was only getting a week out of it, but over time, i manage to squeeze around 2-3 weeks between charges.

Number 4 – LG Nexus 4 smartphone.
Now, don’t get me wrong. it has its faults. The camera is quite rubbish, especially on low lights, and the glass material they use for the back part is unlaminated, therefore scratches easily and some say it’s quite brittle (luckily i haven’t broke mine after many drops without any case). But for 4 million Rupiah, this thing offers an Android experience that works flawlessly, unlike the much-pricier Samsung Galaxy S3 that I’ve used. It just works. And trust me, coming from a dude who likes iOS products, it’s a high praise.

Number 5 – Seiko SKX007 mechanical diver watch.
I’ve always been a fan of mechanical diver watches. The combination of complex mechanical underneath that robust construction truly fascinates me. While my grail watches are Swiss made and costs car-like, this watch isn’t. I bought this watch a couple of years ago for around 2 million Rupiah, and if you know your watches, Its Swiss-made counterparts are at least priced twice that amount. It’s not a perfect thing though. The glass isn’t made from the scratch-resistant sapphire crystal, and the standard bracelet that comes with it is quiet flimsy. But for a mechanical watch that’s ISO certified for 200 meters diving with reputation coming from a Vietnam war era heritage, that’s a real bargain.

So yeah, those are the stuffs that I (so far) found to be worthy in comparison for their price and quality. Hit the comments to share yours!