Hitam, Besar, Dan Disukai Oleh Agnes Monica – Sebuah Perspektif Akan Vivo V7+

Mari kita bicara mengenai stereotipe. Sebagai manusia, sangat susah bagi kita untuk menghindari penggunaan stereotipe dalam keseharian. Misalnya, ada stereotipe bahwa anggota DPR itu semuanya adalah koruptor, semua pengemudi Avanza tidak ada yang mengerti aturan lalu lintas, atau stereotipe semua orang yang bekerja di creative agency akan susah jodoh. Ada yang benar, tapi bila dilihat secara objektif, kebanyakan tidak.

Dalam dunia pergadgetan, ada stereotipe bahwa produk – produk yang dikeluarkan oleh merek seperti Vivo dan Oppo adalah produk untuk orang yang tidak tahu lebih baik. Orang – orang yang preferensi terhadap pilihan smartphone nya ditentukan oleh rekomendasi sales person di toko Hengky Cellular di ITC terdekat, atau karena smartphone itu digunakan oleh seleb terkenal seperti Afgan atau Raisa. Smartphone untuk orang-orang yang tidak mengerti rasio spesifikasi & harga barang, yang penting mereknya familiar buat mereka, dan terlihat ada di mana-mana. Stereotipe bahwa smartphone ini adalah produk dengan spesifikasi ala kadarnya yang tidak akan memberikan pengalaman memuaskan, dan label harga yang lebih mahal dari semestinya.

Pertanyaannya, apakah itu benar?

Saya beruntung bahwa saya berkesempatan untuk membuktikan stereotipe tersebut karena sejak beberapa minggu lalu, saya menggunakan produk terbaru dari Vivo, V7+ (yang sepertinya digemari oleh Agnes Monica dan peluncurannya disiarkan langsung oleh sembilan TV Swasta nasional), sebagai smartphone harian saya, yang biasanya adalah sebuah iPhone 6s.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Vivo V7+ yang sedang hitz saat ini

Saya bisa katakan bahwa stereotipe tersebut tidaklah benar, dan smartphone ini adalah produk yang bagus, yang sejauh ini sangat memuaskan untuk digunakan. Alasannya akan saya bagi dalam tiga kategori: Mantap (segala yang sangat saya sukai dari smartphone ini), Ya Udah Lah (biasa saja) , dan Aduh (membuat saya menggaruk kepala dengan stress). Untuk yang ingin tahu spesifikasi lengkap dari smartphone ini, bisa lihat di sini.

Mari kita mulai dengan yang Mantap:

  1. Desain.
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Tampilan hitam legam nan sederhana
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Unibody alumunium dengan garis antenna yang menarik

    Dengan ukuran sasis yang sama dengan smartphone 5.5 inch lainnya, Vivo V7+ ini dapat memuat layar full view 6 inch, dengan desain yang tipis, ergonomis, enak digenggam, dan memiliki penempatan tombol dan fingerprint sensor yang pas. Murah bukanlah kesan yang saya dapatkan ketika saya merasakan smartphone ini. Materi cukup baik dengan metal unibody dan Gorilla Glass 4.

    Ketahanannya juga cukup oke. Saya memutuskan untuk menggunakan smartphone ini tanpa pelindung layar maupun jelly case yang disertakan dalam dusnya. Sekali waktu saya menjatuhkan benda ini (tidak sengaja, sumpah!) dari ketinggian sekitar 50cm ke lantai marmer, dan tidak menemukan penyok maupun lecet di body, atau keretakan di layar. (Harap dicatatat bahwa efek gravitasi terhadap gadget Anda itu bervariasi, tergantung posisi jatuh, tingginya tingkat hoki dan karma di kehidupan sebelumnya)

  2. Layar full view nya.
    Vivo V7+ Screen
    Layar “Fullview” 18:9 dengan bezel minim yang sangat masa kini
    Vivo V7+
    Sangat cocok digunakan untuk memutar video
    Dual screen Vivo v7+ plus
    Fungsi dual screen yang otomatis aktif ketika sedang di aplikasi YouTube

    Layar yang berukuran 6″ dengan rasio 18:9 dan resolusi 720X1440. Tidak terhindarkan bahwa akan ada sebagian orang dengan pengetahuan teknis yang baik, yang akan mencibir apabila melihat resolusi dari layarnya bila dibandingkan dengan produk lain di kelasnya. Namun lain halnya dengan pengalaman menggunakannya. Layar ini besar, terang dan gampang terlihat ketika berada di luar ruangan, dan yang terpenting buat saya, kalibrasi warna yang akurat. Sampai saat ini saya menghindari layar dengan saturasi warna yang terlalu kuat, seperti yang digunakan oleh Samsung, karena memberikan warna yang tidak akurat saat mengedit foto. Layar iPhone adalah alat andalan saya ketika harus berurusan dengan pengeditan foto, apalagi penyetelan warna. Nah, layar Vivo V7+ ini menggunakan kalibrasi warna yang natural, vibrant (walau sedikit kebiruan bila dibandingkan iPhone, tapi tidak mengganggu), dan menggunakan ambient light sensor yang akurat membaca situasi pencahayaan lingkungan sekitar, tidak seperti beberapa smartphone yang pernah saya miliki (uhukLGuhuk). Tidak pernah sekalipun saya merasa bahwa layar ini kurang tajam, kurang terang atau kurang berwarna berwarna. Layar ini juga berkontribusi terhadap performa batere yang mumpuni, seperti di poin berikut.

  3. Kinerja prosesor dan performa batere .
    Vivo V7+ gaming
    Performa tidak mengecewakan saat digunakan untuk permainan 3D dengan animasi yang berat.

    Skeptis adalah perasaan yang muncul ketika mengetahui bahwa smartphone ini menggunakan prosesor Snapdragon 450. Biasanya, smartphone dalam kisaran midrange ini selalu menggunakan prosesor jenis Snapdragon 6 series, yang performanya lebih mumpuni dari 4 series. Setelah menggali lebih dalam, ternyata saya menemukan bahwa seri 450 ini adalah keluaran terbaru dari Qualcomm yang memiliki performa melebih seri 430, memiliki arsitektur yang sama dengan seri 625, dan mempunyai kelebihan di umur batere yang lebih panjang. Setelah beberapa minggu menggunakannya, saya sekarang mengerti bahwa spesifikasi itu tidak selalu dapat diterjemahkan secara harafiah ke dalam user-experience. Saya tidak pernah menemukan skenario di mana saya membutuhkan daya lebih, meskipun ketika membuka aplikasi permainan 3D yang membutuhkan daya intensif seperti Asphalt 8 atau True Skate (yang notabene adalah simulasi Skateboarding terbaik yang pernah saya temukan). Umur batere nya pun sangat bagus. Saya selalu mengakhiri hari dengan sekitar 40% – 30% daya di smartphone tersebut, meskipun menggunakannya untuk push-email, memutar video sekitar 30 menit – 1 jam, permainan, penggunaan kamera & Instagram Moments yang cukup banyak, maupun internet tethering ketika harus memperbaharui sistem operasi iPhone saya (2GB tethering Telkomsel!). Secara keseluruhan, kinerja smartphone ini memuaskan. Kita lihat performanya setelah penggunaan yang lebih lama.

  4. Kualitas audio.
    Vivo V7+ audio
    Mode HiFi otomatis menyala ketika menggunakan aplikasi yang didukung.

    Ketika berbicara mengenai topik ini, saya ingin menggaris bawahi bahwa yang saya maksud adalah kualitas audio ketika dihubungkan dengan headphone. Speaker bawaan Vivo V7+ ini sebenarnya cukup baik. Suara cukup jernih dan keras walau belum stereo. Namun, ketika menggunakan headphones berkabel untuk mendengarkan musik, disinilah terlihat kelebihan dari smartphone ini, yang ternyata telah menggunakan Bulit-In DAC (Digital Audio Converter – untuk lebih jelas mengetahui apa mahluk ini, klik di sini).

    Kualitas musik yang dikeluarkan lebih berkualitas apabila dibandingkan dengan kualitas musik dari iPhone maupun MacBook yang biasa saya gunakan. Sayangnya, DAC tersebut saat ini hanya bekerja untuk beberapa aplikasi, seperti Spotify, Play Music, YouTube, dan aplikasi pemutar musik bawaannya. Moga-moga kedepannya akan diperbaharui agar bisa bekerja untuk Apple Music juga.

  5. Kamera depan.
    Kamera depan Vivo V7+ Intan Wibisono
    Idola para selfie mania.

    Vivo V7+ ini memiliki kamera depan dengan resolusi 24 megapixel. Memang itu adalah angka yang tinggi dan terlihat seperti kamera yang akan membuahkan hasil yang baik, namun sebenarnya ukuran resolusi tidaklah menentukan kualitas foto yang dihasilkan, hanya ukuran foto saja. Yang lebih menentukan adalah ukuran sensor kamera tersebut, di mana semakin besar ukurannya, semakin banyak cahaya yang diserap dan membuat hasil fotonya semakin jelas. Untungnya, ternyata hasil foto yang dihasilkan oleh kamera ini jauh dari kata jelek. Hasil foto tajam, warna yang ditangkap cerah, yang memungkinkan untuk menghasilkan foto-foto selfie yang memuaskan hasilnya. Aplikasi kameranya juga cukup baik. Memang desainnya terlihat kurang orisinal, (sangat terinspirasi oleh desain antarmuka iPhone) namun hal ini membuat penggunaannya lebih mudah, karena lebih familiar. Ada beberapa efek yang diberikan di aplikasi kamera nya. Tentunya, fungsi Face-Beautifying hadir di sini.

    Ini namanya Intan Wibisono
    Dengan menggunakan “bokeh” mode
    Intan sebenarnya cakep, tergantung jam dan hari apa.
    Hasil kamera depan di kondisi dalam ruangan yang terang
    saya
    Lagi, hasil menggunakan “bokeh” mode.
    Ramen Sanpachi
    Hasil kamera depan di dalam kondisi remang-remang restoran Jepang di bilangan Blok M

    Namun sebagai orang yang tahu diri untuk tidak banyak mengunggah muka saya yang non-fotogenik, saya lebih menyukai fungsi pengeditan foto yang sudah dilengkapi dengan beberapa efek warna yang menurut saya cukup lengkap agar terlihat seperti foto-foto di akun selebgram terkenal.

  6. Kelengkapan.
    Vivo V7+
    Anti gores? Ngapain?

    Smartphone ini dilengkapi dengan pelindung layar & casing dalam kemasan aslinya. Memudahkan bagi pembelinya sehingga tidak usah membeli asesoris lagi. Saya secara pribadi tidak pernah menyukai smartphone dengan tambahan anti gores, jadi saya tidak menggunakannya (ya, saya suka hidup berbahaya dan penuh tantangan).

  7. After sales service dan garansi yang tersedia di mana-mana dan gampang ditemukan.

    Saya baru mengetahui bahwa service center Vivo memiliki kebijakan untuk mengganti sebuah handset yang mengalami kerusakan, apabila spare parts nya tidak tersedia dalam waktu 24 jam. Sangat berbeda dengan pengalaman saya dengan smartphone merek lain yang mengalami kerusakan LCD, dan harus menunggu seminggu sampai barangnya tersedia. Garansi, hotline service center dan panduan sudah tersedia secara elektronik di dalam menu Settings smartphone ini. Sungguh praktis!

 

Faktor Ya Udah Lah:

  1. Funtouch OS.

    Sebagai seseorang yang lebih menyukai tampilan & fungsi Android murni, tampilan Funtouch OS ini terlalu “iPhone” buat saya. Cara berinteraksi dengan settings, tampilan, maupun ketiadaan App Drawer, membuat smartphone ini terasa seperti versi Androidnya iOS. Untungnya dengan Android, selalu ada Launcher yang menyediakan alternatif untuk saya yang menyukai tampilan Android murni. Setelah mencoba beberapa Launcher, saya akhirnya menggunakan Nova Launcher, karena tampilan Android O nya, dan adanya fungsi App Shortcut ketika menekan aplikasi selama satu detik.

    Screenshot_20170926_220758
    Nova Launcher, kau adalah penyelamatku!

    Paling tidak, OS Funtouch ini memberikan pengalaman penggunaan yang fluid, tanpa jeda, memiliki system pengaturan memori yang baik, dan terasa ringan.

  2. Kamera belakang.
    Vivo V7+ Camera
    Kamera belakangnya ya… Biasa aja.

    Kamera belakang dari Vivo V7+ ini rasanya agak campur sari performa nya. Di kala kondisi cahaya terang, kamera ini membuahkan hasil gambar dengan detail yang baik, tajam, dan Dynamic Range yang bagus.

    Namun, ketika berada di dalam ruangan, apalagi dengan pencahayaan yang kurang terang, kualitas foto menurun dengan drastis. Detail foto hilang karena kamera nya mencoba menyamarkan kekurangannya dengan menghilangkan noise, tapi hasilnya adalah detail yang terlihat seperti polesan. Walau begitu, kecepatan kamera untuk fokus tetap bagus meskipun pencahayaan kurang baik.

    Saran saya, jangan ragu untuk menggunakan kamera smartphone ini ketika pencahayaan bagus. Ketika sedang gelap, gunakan flash sebisa mungkin, atau berteman dengan orang-orang yang membawa senter LED dengan kekuatan 10,000 lumen.

Faktor Aduh:

  1. Kualitas audio ketika dihubungkan dengan headphone Bluetooth. b5878b7be13943509a21fa3688125e6736ab5c67bf7149164474d24b8a40fc65 Saya teringat kepada Tuhan ketika mendengar kualitas suara smartphone ini ketika dihubungkan dengan Bluetooth headphone, dan bukan karena kualitas yang baik. Suaranya kecil, detail tidak terdengar dengan jelas, sehingga membuat saya lebih banyak menggunakan headphone berkabel untuk mendengarkan musik di smartphone ini, yang tidak sepraktis Bluetooth. Hal ini merusak pengalaman ketika membawa smartphone ini sebagai pemutar musik dikala berolahraga, karena kabel yang berlarian kemana-mana. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena pengalaman saya selama ini menggunakan smartphone dengan headphone Bluetooth maupun berkabel, semuanya memberikan pengalaman yang konsisten.
  2. Micro USB.
    Vivo V7+
    Micro USB di tahun 2017…

    Konektor micro USB di tahun 2017. Serius nih? Saya pernah menggunakan Asus Zenfone 3 keluaran tahun lalu, yang sudah menggunakan USB C. Memang tidak fatal karena saya selalu memiliki berbagai macam konektor tergelatak di rumah atau kantor, tapi sebagai seseorang yang menilai sebuah smartphone dari pengalaman menggunakan, meraba-raba konektor ketika gelap untuk menentukan sisi mana dia harus menghadap ketika harus mengisi daya bukanlah pengalaman yang positif.

  3. Kontrol musik ketika layar terkunci.
    Vivo V7+ interface
    Ini tampilan ketika sedang memainkan musik (Spotify) dari layar utama. Harus unlock dulu untuk bisa skip musik. Sungguh praktis.

    Ini agak fatal menurut saya. Ketika saya menggunakan Apple Music atau Spotify dan ingin masuk ke fungsi kontrol music (stop, play, next/back), saya tidak bisa mendapatkannya dari posisi layar terkunci. Saya harus buka dengan sidik jari atau kode pin, swipe layar paling atas untuk mendapatkan fungsi kontrol, atau membuka aplikasi musik tersebut. Sangat tidak praktis. Seharusnya ini sesuatu yang dapat diobat dengan OS update, tapi saya bingung aja kenapa hal seperti ini terlewati, padahal seharusnya kekuatan Vivo adalah Kamera dan Audio nya.

Kesimpulan:

Tidak ada gadget yang sempurna. (Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan dan Emma Stone) Tapi, segala faktor Mantap di atas tadi cukup untuk membuat saya bisa menerima segala kekurangan smartphone Vivo V7+ ini sebagai gadget yang akan saya pakai secara harian. Desain yang enak digunakan dan digenggam, layar yang bagus, performa yang bebas drama dan umur batere yang panjang sangat memenuhi kebutuhan saya, terlebih untuk urusan menonton video di jalan dan penggunaan normal sehari-hari (rentetan e-mail dengan kuantitas besar, berbagai grup WhatsApp & tentunya penggunaan berbagai aplikasi social media).

Jadi, apakah Vivo V7+ ini layak dibeli? Berikut adalah bagan sederhana untuk menentukan apakah Anda harus mempertimbangkan smartphone ini atau tidak:

Screen Shot 2017-09-30 at 17.10.04

 

 

Xiaomi Mi4i Review

IMG_0092

AADX, atau Ada Apa Dengan Xiaomi? Itu yang gue pikirkan setelah melihat beberapa teman penyuka gadget yang tidak berhenti membicarakan mengenai brand tersebut. Komunitas yang menjadi advokat brand tersebut juga kuat, dan sangat aktif sekali, apalagi setelah produknya yang bernama Mi4i diluncurkan di Jakarta. Produk dengan premis “Affordable Flagship”, yang menurut gue secara pesimis, ngga akan ada bedanya dengan handset Android lainnya.

Gue beberapa kali menggunakan handset Android, dan ujung-ujungnya selalu kembali ke iPhone karena satu hal, konsistensi performa. Pakai Nexus 4 dan 5, yang notabene selalu memberikan konsistensi paling baik dari sisi software, tapi mengecewakan dalam battery life dan kualitas kamera. Pakai LG G3 yang camera nya sangat bagus untuk ukuran handphone, tapi kecewa dengan konsistensi performa nya karena seringkali melambat, memanas, dan ujung-ujungnya baterai lumayan boros.

Iklan Samsung
Dengan memakai Samsung, kamu akan bahagia karena berlari-lari di taman dan memiliki hidup yang berwarna-warni cerah.

Samsung… Gimana ya? Menurut gue pembeli Samsung itu secara spesifik berasal dari kalangan ‘orang yang masih percaya iklan’. I’m not saying that it’s bad, but you can definitely get better stuff if you only ask your techy friends instead of believing in social media buzzers who seem to glorify them (twice each year during the Galaxy S & Note series periodic launch). Yah, pernah pakai Galaxy S3 dan A5 punya kantor. S3 belum dipakai setahun dan performa nya melambat walau sudah factory reset, dan A5 sebenarnya cukup oke sih, tapi terlalu mahal untuk spesifikasi mid-range nya. So, ya begitu. Gue belum pernah menemukan handset Android yang memuaskan, yang bisa membuat gue bisa meninggalkan iPhone di rumah, dan sehari-hari memakai handset itu aja.

Tertarik dengan omongan teman-teman bahwa Xiaomi Mi4i ini memuaskan, gue bertanya-tanya, dan setelah satu dan lain hal, akhirnya menggunakan handset tersebut selama beberapa minggu ini. Secara singkat, gue sekarang tahu kenapa teman-teman gue merekomendasikan handset ini, dan brand nya memiliki komunitas yang sangat kuat juga. Handset ini simply memuaskan. Ini alasannya:

Screenshot_2015-09-20-22-35-53
Boleh lah ini battery life nya.

1. Battery kuat
Dan ada alasannya kenapa begitu. Satu, secara spesifikasi, ukurannya besar. Lebih dari 3,000 mAH, tapi lucunya, LG G3 yang dulu gue pakai juga memiliki baterai dengan ukuran sekitar itu, dan jarang sekali menembus 12 jam standby dengan penggunaan sedang (Waze sekitar 30 – 40 menit, sekitar 100an push email, chat, social media, browsing, puzzle games, dan sekitar 2.5-3.5 jam layar aktif). Perbedaannya terletak di prioritas designer handphone nya. Xiaomi itu mendahulukan user experience dibandingkan spesifikasi, terlihat dari Layar LG G3 yang 5.5 inch Quad HD, atau sekitar 538 ppi (pixel per inch) sedangkan Mi4i “cuma” Full HD, dengan 441 ppi. Apakah terlihat bedanya? Ngga. Tapi memang spesifikasi LG lebih sexy buat dipampangkan di brosur, walau efeknya lebih memberatkan prosesor dan membuat baterai boros.

Ibaratnya kalau mobil, LG membuat mesin 6 silinder yang lebih besar, tapi menghasilkan akselerasi yang sama dengan mesin Xiaomi yang cuma 4 silinder. It’s pointless. Dengan si Mi4i, Sehari-hari, paling jelek itu gue mendapatkan sekitar 12 jam. Rata-rata sekitar 15 jam, seringkali lebih. Copot charger jam 5.30 pagi, dan baru masuk charger lagi sekitar jam 11 malam. Sangat cukup buat gue.

2. Performa
Performanya konsisten. Masalah gue dengan LG G3 dulu adalah ketidak konsistenan performa. Kadang mulus, tapi seringkali mendadak melambat, bahkan disaat gue cuma ingin scrolling Home screen atau buka app. Mungkin cuma sekitar 0,5-1 detik sih lag nya, tapi dikali beberapa puluh kali melakukannya setiap hari, berasa lah. OS nya Mi4i yang bernama MiUI ini secara mengejutkannya cukup responsif dan konsisten. Tidak seperti kebanyakan Android dengan skin ala produsen lain yang biasanya memberatkan kinerja, OS ini dirasa sangat optimal buat handphone ini. Bukan cuma asal membedakan tampilan dan fitur, tapi memang dirancang untuk melengkapi hardware yang mid-range. Emang sih, RAM yang ukurannya 2GB itu kadang berasa ngga cukup, karena biasanya cuma tersisa sekitar 800-400MB untuk user (sisanya dimakan oleh OS tersebut). Lalu, namanya juga Android ya, masih perlu di reboot paling tidak seminggu sekali untuk mempertahankan mulusnya performa. Dimaklumi lah ini.

 IMG_0093

3. Camera
Memang camera handset ini ngga bisa dibandingkan dengan iPhone 5S atau LG G3 yang pernah gue pakai. Noise nya cukup banyak dalam kondisi remang-remang, lalu tidak menangkap detail sebaik handset2 tersebut. Tapi begitu ingat bahwa handset ini harganya 2,8 juta Rupiah, kekurangan itu sangat dimaafkan. Bahkan, agak sulit mencari camera handphone sebaik ini dalam rentan harga tersebut. Camera nya responsive, cukup cepat dinyalakan dari standby sampai mengambil gambar, sangat mudah digunakan & memiliki fitur-fitur unik, misalnya cara menyetel exposure value yang intuitif seperti ini.
Screenshot_2015-09-26-16-19-25
Beberapa fungsi dasar camera Mi4i
Screenshot_2015-09-26-16-19-10
Beragam mode foto Mi4i
Screenshot_2015-09-24-12-21-51
Mode selfie dengan sensor umur built-in. Dengan kacamata, gue dibaca sebagai 50 tahun, tanpa kacamata, lebih muda 20 tahun.

Camera itu sangat penting buat gue, dan menjadi salah satu alasan kenapa gue urung menggunakan Nexus. Camera dengan kualitas gambar konsisten itu alasan gue kenapa sejauh ini selalu memilih menggunakan iPhone untuk mengambil gambar, dan tidak memakai handset Android lainnya. Dengan si Mi4i ini, gue semakin sering menggunakannya untuk mengambil gambar, terlebih karena kamera 13 Megapixel nya ini lebih cropping friendly dibandingkan 8 Megapixel nya iPhone 5S gue. Untuk sample foto Mi4i, silahkan scroll ke paling bawah.

Sharp & vibrant. Something that you don’t see in a phone at this price range.
4. Layar dan desain
Menurut gue, 4.7-5 inch adalah ukuran layar terbaik, dimana real-estate visual cukup, tapi tidak mengorbankan handling jika menggunakan satu tangan. It’s the sweet spot. Layar 5 inch nya Mi4i yang digabung dengan body yang tipis membuatnya gampang digunakan, bahkan dengan satu tangan. Selain itu, layarnya tajam dan warnanya sangat bagus.
Apabila Samsung memiliki hobi yang aneh untuk membuat saturasi warna terlalu kuat, Xiaomi ini lebih condong ke Apple untuk racikan warna layar. Netral, visual angle nya luas dan menggunakan teknologi IPS dibandingkan LED. Foto dan gambar terlihat natural dan ekstra tajam. Memang kekurangannya adalah ketika di tempat gelap, there’s only so much brightness you can decrease. Kalah dibandingkan layar AMOLED nya Samsung yang bisa extra redup dan tidak menyilaukan. If you’re a fan of reading in the dark before going to bed (or you’re Batman), you might be losing sleep because of this.
Tampilan dasar home screen MiUI. Tidak punya app drawer seperti Android pada umumnya. I like this better. Who access their app drawer anyway?
Walau tampilannya iOS banget, tapi widgets bisa dong. Best of both world.
Screenshot_2015-09-24-12-24-19
Multi tasking screen nya kelihatan familiar ya…
5. Detail OS
Walau terlihat Xiaomi ini ‘terinspirasi’ sekali dari Apple, banyak sentuhan-sentuhan kecil yang dilakukan Xiaomi yang membuatnya berasa lebih intuitif atau menyenangkan dibandingkan versi Android lainnya. Contoh paling kecil, aksi swiping untuk melihat notifikasi tidak usah dilakukan pada layar bagian paling atas, tapi bisa dari mana saja.
Lalu, mode satu tangan yang sangat intuitif dan gampang dilakukan, bahkan sampai cara switching dari camera belakang ke depan (tinggal swipe atas/bawah saat camera menyala) atau posisi angka timer di selfie-mode camera yang posisinya dekat dengan lensa, agar mata lebih fokus melihat kearah lensa tersebut. Banyak sekali detail-detail kecil yang membuat OS ini unik, intuitif dan menyenangkan digunakan, baik itu animasi nya, maupun designnya. Untuk segala fitur MiUI, dapat dilihat disini.
Processed with VSCOcam with hb1 preset
I don’t mind using this as my daily driver. In fact, i want it to be.
Kesimpulannya, gue jatuh hati dengan handset ini. Memang ini masih terlalu cepat untuk mengatakan apakah Mi4i ini akan bertahan lama atau memberikan performa yang konsisten dengan berjalannya waktu, but, i’m more than willing to find out. Handset ini menyenangkan untuk digunakan. Ia membuat gue nyaman untuk memindahkan nomor utama ke sini, dan (kadang) meninggalkan iPhone di rumah. Handset ini actually ngga membuat gue was-was dengan performa baterai nya, atau memberikan gambar yang lumayan bagus dengan cepat tiap kali gue nyalakan kameranya. In fact, this is what i’m looking for in a handset. Perasaan tenang bahwa handset ini akan bekerja tanpa drama. It just works.
IMG_0094
Those faux chrome & plasticky buttons
Tapi, seperti ungkapan ‘tiada gading yang tak retak’ (atau kalau disesuaikan dengan era masa kini, ‘tiada Kelapa Gading yang tak banjir’) kekurangan itu pasti ada. Pertama, ukuran memory internal yang cuma 16 GB. Emang sih ini bisa disiasati dengan selalu selektif memilih file apa yang akan kita simpan, but i’m echoing realistic women here that size, in fact, does matter. Kedua, feel dari power & volume button. As you can tell as how i’m nitpicking here, sebenarnya ini bukan sesuatu yang penting, tapi akan lebih baik apabila rasanya lebih ‘click’ dan less plasticky. Apalagi ya? Mungkin tekstur body nya. Memang dia menggunakan coating yang membuatnya anti kotor. Segala noda gampang sekali dihapus, tapi kadang membuatnya berasa licin. Oke, gue mulai kehabisan materi untuk dikomplain. Selain itu pun, segala keluhan diatas lagi-lagi dimaafkan mengingat harganya yang dibawah 3 juta.
Processed with VSCOcam with hb1 preset
It’s hard to find a better phone all around at 2.5-3 million price point. I highly recommend this phone for that kind of budget.
Ada masanya harga dibawah 3 juta itu merupakan pertanda sial bahwa handset yang bisa dibawa pulang adalah merek ngga jelas, atau Samsung low-end dengan spesifikasi yang hanya terdengar wow ketika band bernama Base Jam masih terkenal. Dengan senangnya gue memberi tahu bahwa masa-masa gelap itu telah berlalu (begitu pula dengan Base Jam). Budget terbatas sekarang bisa mendapatkan handset dengan kualitas sebaik Mi4i ini.
P.S: If your budget is lower than that, and i mean below 2 million Rupiah, you shouldn’t worry as well. Xiaomi baru aja meluncurkan Redmi 2 Prime yang harganya sekitar 1,8 jutaan, dan apabila optimalisasi OS dan hardware nya sebagus si Mi4i ini, harusnya performa nya akan sangat memuaskan untuk harganya. I will be reviewing it once i got my hands on it and spend a good time with it. (Big love to the guys at Xiaomi for allowing me to do some reviews on their gadgets)
Beberapa sample foto yang diambil dengan Mi4i:
Processed with VSCOcam with hb1 preset
Pagi hari cerah, indoor, sudah dibumbui dengan preset VSCOCAM.
IMG_20150925_175946
Maghrib, outdoor, sekitar jam setengah 7 malam.
IMG_20150912_190204
Indoor, malam, dengan cahaya lampu neon.
IMG_20150925_204051
Malam, indoor dan remang-remang ala bar.
IMG_20150912_185504
Kondisi malam. Mengkompensasi noise dengan kontras cahaya yang tinggi.
IMG_20150924_123613
Indoor, kondisi terang sekitar jam makan siang.

Nokia N9’s review part 2: Reality test

20111121-233823.jpg
I know it has been more than 2 weeks after my first impression of the N9, but I believe that using the device for a week doesn’t simply do justice to give you the actual impression of living with the device. So after a couple of weeks fiddling (and casually dropping) it, this is my actual report of the device. Note: I usually use my device for messaging, twitter, camera, maps and document viewing. So this review will have a normal smartphone consumer point of view instead of a geek.

The OS
A phone’s OS really determine how do you interact with a device. I’ve been using early Androids (1.5 on a HTC Hero), iPhones, Symbian based Nokias and BlackBerry, and each of them has their own strength. On BlackBerry, I love the messaging feature. Despite not fully supporting HTML emails, it’s simply the most reliable messaging-centric phone I’ve ever used. iPhone, well, it’s an iPhone. Simple, smooth, tons of apps, fun, and it just works. Android was never my cup of tea. It’s smart, but presented me with too much options that I don’t really need. I was also never the tinkering type that custom their androids with multiple ROMs. So, how’s the N9 stands along?

20111121-234039.jpg

20111121-234134.jpg

20111121-234230.jpg
The overall experience using the N9 is closer to the iPhone. It’s simple, beautiful, well thought of, even though it has no home buttons (I actually hate the iPhone’s home button that will get mechanically tired over time). You’re presented with 3 main screens. Your apps, the feed, and the running apps. To unlock the phone you simply have to double-tap the screen & slide from the edge of the phone’s screen. That’s also how exit a running app. Slide from the side of the screen to exit while leaving it running in the background, or slide it from the top side (logo/earpiece side) to exit it completely. You can also tap & hold on the running app and there will be an option to kill it one by one or all of them. Personally, I find N9’s take on this is very elegant. It takes some time to get used to, but I guarantee it won’t be more than 15 minutes, even if you’re as intellectually challenged as any DPR member.

There’s also a built in social media plug in, so you could almost share anything through Facebook & Twitter. I find the Facebook app to be quite good, but the twitter app could use some bug fix. There’s no way to adjust the refresh interval on the app, so if you let it run on the background, it will sip your battery in no time. It also could use more options such as multiple account support, tweet quoting and copy/paste functions.

Speaking of the copy/paste function, I like to claim it as brilliantly executed, but it’s not. You could execute it flawlessly during message composing. All you have to do is swipe the words and adjust the pointer. But I can’t seem to think why it doesn’t work on web pages or apps such as Facebook or twitter. Perhaps Nokia could call this as a feature to “be original” instead of admitting To forget that there are actual people copying something from web pages for quoting purposes. On the plus side, it provides me with ample of choices of fonts and styling for italic or bold type. Something that the iOS releases on their 5th edition.

20111121-233502.jpg

20111121-233638.jpg
The virtual keyboard itself is brilliant. The precision & the tactile buzzing feedback will leave you with a nice typing sensation. The touch sensitivity & the smoothness is… How do I say this, iPhone like, and that’s the best praise for a touch screen phone I could ever give. The OS’s stability is great especially knowing that this is only 1.2 version. Really puts any android devices to shame. The other little things that makes me praise this phone is its UI design. It’s purely Scandinavian design. Clean, great typeface and intuitive. Oh, and the alarm clock even comes on when I powered the device off. Something I didn’t get in the iPhone.

Apps
I won’t bore you with the selection of apps available for the N9. It’s not as complete as iOS or Android, but I easily find what I needed. It also came with apps such as Twitter, Facebook, Nokia maps, Drive (Nokia maps optimized for driving), Documents for reading Office stuff, wifi hotspot, Skype, Gtalk, 3D games like Need for Speed or Real Golf, RSS feed, Ovi music and music & video player. Again, I have to praise the beautiful look on the music & video player. The layout is clean and the sound quality is iPod like, tested using a quality headphone. Overall, the apps that came within leaves me satisfied.

20111121-234639.jpg

20111121-234731.jpg
I also find some apps that I usually used on the other platform, such as Foursquare, File Manager, screen capturer, world clock, translator and some music apps like piano & drums. But wait, where’s the Yahoo messenger? Where’s Whatsapp? I couldn’t found them, even among the vast selection of apps within the Ovi store. I hope there will be a whatsapp for the N9, cause its one of the main chat apps I’m using frequently.

Camera
The camera on the N9 is a bit of a mixed bag. The lens is actually brilliant. It’s a f2.2 Carl Zeiss lens but unfortunately it doesn’t ship with the brightest image processing unit. Noises could be found during low light shots and the focus time could be a bit faster, but overall it provides a great detail and neutral colors, unlike some camera that puts the contrast level to be unnatural. The video also HD capable, providing a 16:9 resolution that captures movement in good frame rate, but sometimes you could see it struggling with panning mode. Might be happening due to the constant auto focusing. All in all, it’s a more than adequate camera for a phone. Here’s the pictures taken with the N9 below.

20111121-235023.jpg

20111121-235115.jpg

20111121-235204.jpg

Battery Life
Now this is where I think the N9 shines. The battery life for me is great, considering I always put it on 3.5G mode and it’s equipped with a 1ghz processor & 1ghz of RAM. My usage is including my morning reading session through the RSS feed, playing with the camera, tweeting, browsing and more RSS reading. It provides me with around 10 hours of battery life, which is mo than what I got with my iPhone 3GS on 3G mode, even more than my current Bold 9790 that has lower RAM number. But usage time will be varied according on how you use it. If you spend your time playing the 3D games or Maps, the N9 could be as consumptive as a rich man’s mistress. I also found a power saving mode that deactivate the background connection activity, only activating when you’re needing them or opening some apps.

20111121-234914.jpg

Conclusion
Despite all of its shortcomings, I really love the N9. This phone is nothing like other phones available. It’s beautifully crafted, great UI design, good keyboard, the curved glass is wonderful and making me feel downgraded using devices with “just another flat glassed gadget” and provides me with what I needed. It’s Nokia’s statement of what they can do among other phone manufacturers that seems to be drowning them, and it’s a great statement. Sure the apps selection is not as varied as Android or iPhone, but I’m sure in time there will be more apps to come.
Will I buy it with my own money? Well, let’s just say that when you’re in love, you’ll do things beyond logic, and I’m definitely in love with this one.

20111121-235311.jpg

Nokia N9’s review part 1: First impression – spoiler alert: it’s impressive

Luck is relatively different for individuals. For some, luck might means successfully scoring a hot chick you met at some dodgy bar in Blok M, or ran into Deddy Corbuzier in the mall (although I prefer to call it “alien encounter”). For me, luck is being given the chance to review the product that interests me most, and this time, it’s the Nokia N9.

In short, the N9 is a different breed of smartphone. It runs Nokia’s Meego OS. An OS that, how do I say this without sounding to geeky, was developed based on Linux by Intel. What’s that meaning for me? Nothing. But the fact that it comes with no button and uses finger gestures is what interests me.

The packaging

20111031-002718.jpg

20111031-002804.jpg

20111031-003307.jpg

The N9’s packaging is up to today’s standard. It’s small, that means more products can be loaded during the shipping, and it’s made from non-laminated recycled material to please the tree huggers. It has a slider mechanism, making it easier to open, and it comes with clean design that pleases the eyes. There’s even small details that made me smiled (below). Good job Nokia.

20111031-003415.jpg

What’s inside is the usual deal. You get the warranty card, charger, USB cable, stereo earphone, and to my surprise: a silicon case. The color is black just like the handset, and the material is very stiff & thick. Great for durability, but takes extra strength in putting it on. (imagine an Arab putting on a Chinese condom)

20111031-003900.jpg

The device

What can I say about the device? Ever since I saw the photos & demos from the Internet, this device has been the most interesting smartphone for me. It’s crafted from a single polycarbonate block (same material from a hockey puck) with a curved gorilla glass & no buttons. Yes, no buttons, aside from the volume & lock ones. The weight & feel is solid, and I think it could withstand a drop or two (actually, I dropped it inside an elevator while trying to put on the case. Made a dramatic noise, but no harm done)

20111031-004105.jpg

20111031-004129.jpg
It has 8 megapixel camera with Zeiss lens that promises photos beyond other phone cameras. I’ll post some of the camera result in my next photos.

As for the settings, it’s quite easy. Just enter your Nokia account (you could made one on the settings page) and then choose how to import your contacts. I had mine imported from my BlackBerry Bold 9900 via Bluetooth without any drama. The OS itself is – how do I say this without making me sounds cheesy – Buttery smooth. It uses swipes to switch from app to home screen, and for closing the apps. This could take some time to get used to, and it won’t take more than 5 minutes. It reminds me of the swiping system used in the BlackBerry PlayBook, only in a more compact form.

20111103-004007.jpg

So yeah, overall, I’m very impressed. This is the device that wows me ever since the first iPhone came out. But how does it feel as a device to live with, and how does it stacks against its competitors? I guess I’m just gonna have to use it for a week to see how it goes, and I have a feeling I’m gonna be having a good time doing that. See you on part 2!